Pesan Jangan Menyerah Meraih Mimpi dari Desi Rani, Wisudawan Terbaik Wisuda UTU ke-XII 2022
  • UTU News
  • 20. 03. 2022
  • 0
  • 2861

MEULABOH - UTU | Prosesi wisuda Universitas Teuku Umar ke-XIII yang digelar dihalaman Gedung Kuliah Terintegrasi (GKT) Kampus UTU pada Sabtu (19/3/2022) berlangsung lancar, meskipun sempat diguyur hujan sejak subuh pagi, namun tidak mengurangi kekhidmatan upacara Wisuda periode 1 Tahun 2022.

Saat prosesi sakral tersebut, Desi Rani wisudawan terbaik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Teuku Umar mewakili para wisudawan untuk menyampaikan kesan dan pesan selama menuntut ilmu di UTU. Baginya, memiliki kesempatan untuk belajar, meraih gelar hingga akhirnya bisa menikmati momen yang indah saat wisuda merupakan karunia besar dalam kehidupan.

“Momen wisuda ini bukan hanya tentang kita sebagai para wisudawan, namun lebih dari itu, wisuda ini juga tentang perjuangan dan restu orang tua yang mengantar kita menjadi diri yang sekarang,” ujarnya. Ia menceritakan kondisi keluarganya dimana ayahnya adalah seorang petani dan ibunya seorang buruh tani. Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat ia memiliki tekad kuat agar memiliki pendidikan yang paling tinggi.

Desi, sapaan akrabnya adalah peraih juara 3 LKTQ lingkup Universitas Teuku Umar tahun 2019. Awalnya, Desi tidak menyangka akan dipilih mewakili teman-temannya memberikan kata sambutan. Saat pertama kali menjadi mahasiswa UTU, ia bukan siapa-siapa dan tidak pernah terpikir akan berdiri di podium menyampaikan kata sambutan.

Desi bercerita, meskipun dirinya sempat ragu untuk melanjutkan studi di UTU karena daerahnya sangat asing baginya, tapi berkat masukan dari orangtua dan rekan-rekan akhirnya saya mantap memilih UTU sebagai pilihan pertama saat SBMPTN. Dan ternyata, di UTU sudah sangat ramai mahasiswa yang berasal dari luar Aceh, bukan hanya dari Sumatera Utara, tapi juga ada dari Sumbar, sumsel, Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, sulawesi bahkan ada dari Papua, daerah paling timur di Indonesia.

Penerima beasiswa KIP-K ini, saat berkuliah di UTU memilih untuk menikmati semua prosesnya, baik enak dan tidak enaknya. Meski tidak banyak prestasi yang ia torehkan, namun ia cukup aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Desi cukup aktif di organisasi Formadiksi UTU dan juga di organisasi IMSU wadah ia bergabung dengan rekan-rekannya sesama perantau dari Sumatera Utara.

Untuk mengasah kemampuan literasi dan jurnalistik, ia bergabung di organisasi Timang News sejak 2019, sebuah UKM Pers mahasiswa yang fokus pada pengembangan kemampuan anggota dalam bidang jurnalistik.

Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini terlihat cukup berani dan mampu menyampaikan pesan dan kesan dihadapan senat, seluruh wisudawan dan orangtua/wali, tidak sedikit rasa gentar dari nya, namun ia tidak mampu menahan haru dan sedih sampai ia terisak tangis saat menyampaikan kesan dan peran orang tua dalam mendidik dan berkorban untuk pendidikan para anak.

Ayah,,,, ibu,,,,  setiap hari keringatmu mengalir tak pernah berhenti untuk kehidupan kami, yang bahunya hampir patah memikul beban berat untuk memperjuangkan segala kebutuhan kami, yang sejadahnya selalu dibasahi cucuran air mata, bersujut- bersimpuh di hadapan-Nya seraya memanjatkan do’a agar kami sukses menjadi seorang sarjana, menjadi ORANG YANG BERGUNA bagi Nusa, Bangsa dan Agama. Kami sadar, bahwa kami tidak akan mampu membalas segala pengorbananmu. Hanya do’a yang dapat kami panjatkan semoga Allah SWT membalas dan meridhoi segala pengorbananmu, dan menempatkan mu di Surga-Nya nanti.

Berbahagialah teman-teman semua yang di dampingi kedua orang tua dalam acara Wisuda ini, karena ada sebagian dari kita yang tidak didampingi orang tua nya. Salah satu nya adalah saya. Akan tetapi saya yakin, orang tua saya akan bangga melihat saya berdiri disini. Ya Allah saksikanlah dihari yang bersejarah ini kami meminta kepadamu. Muliakanlah kedua orang tua kami dan kabulkanlah segala do’a kami. Aamin ya robbal alamin.

Diantara kata dan doanya, yang membuat ratusan wisudawan menundukkan kepala serta menitikkan air mata tidak sanggup menahan rasa haru dan sedih, terutama bagi mereka yang tidak didampingi oleh para orangtua, bahkan bagi mereka yang telah kehilangan orangtuanya.

Desi lulus dengan IPK 3.98 dan meraih sejumlah prestasi. Semua itu didapatkannya dari kesungguhan dan sikap pantang menyerah. Ia memiliki prinsip untuk tidak mengeluh dan menyerah atas semua tantangan yang dihadapi dalam meraih mimpi, dan yang terpenting adalah berjuang dan berdoa. “Jangan pernah berpikir kalau cita-cita itu terlalu tinggi, karena ketika sudah bersungguh-sungguh untuk meraihnya mudah bagi Allah yang Maha Kuasa untuk menjadikan itu nyata. Dan seandainya jika tidak tercapai maka rencana Allah SWT itu lebih baik,” ujarnya.

Selama berkuliah, tantangan terbesar yang ia hadapi muncul ketika melakukan magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka, khususnya saat menulis artikel, apalagi Magang MBKM merupakan program baru dari UTU juga implementasi dari kebijakan dari Kemendikbud Ristek. Namun Sudarman Alwy, M.Ag selaku dosen pembimbingnya selalu memberinya semangat. ”Jika kita dihadapkan pada permasalahan yang bahkan banyak puzzle yang mesti dipecahkan, maka inilah tantangan yang sesungguhnya. Jika kamu berhasil menulis artikel ini dengan baik, itu akan membuka ruang besar bagimu kelak untuk lebih mudah menulis, terutama jika ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," ungkap Desi mengulang kata-kata motivasi dari dosen pembimbingnya.

Secara khusus, Desi berterimakasih kepada dosen pembimbing, ketua Prodi, Ibu Safrida, S.Sos., M.AP, Dekan FISIP, Basri, SH., MH, Rektor UTU, Prof. Dr. Jasman J. Ma'ruf, SE., MBA dan seluruh dosen IAN serta rekan-rekan seperjuangannya.

Teman-teman, Ingatlah bahwa perjuangan kita belum berakhir, ini adalah awal dari perjuangan yang baru. Marilah kita menjadi sarjana yang mampu berkontribusi dan berkarya secara nyata untuk memajukan peradaban bangsa ini, baik itu dengan pikiran, tenaga, materi bahkan jiwa raga sekalipun. Mari kita menjaga nama baik almamater Universitas Teuku Umar sebagai sumber inspirasi perubahan yang berdaya saing tinggi. Teruslah belajar hingga akhir hayat.

Desi berpesan kepada adik-adik tingkatnya untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia sebaik mungkin dan mengikuti perkembangan teknologi. Karena di luar sana perkembangan teknologi itu sudah sangat maju.

Desi menutup pidato sambutannya lewat kutipan pernyataan Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon for changing the world” pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Pungkasnya yang disambut tepuk tangan gemuruh dari wisudawan dan para undangan yang berhadir. (Aduwina Pakeh / Humas UTU).

Komentar :

Lainnya :